Mengasuh Adik
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara yang tinggal bersama keluargaku di rumah yang sederhana. Anggota keluarga kami yaitu aku, mama, papa, dan adikku. Walaupun kami hanya tinggal berempat, namun rasa kekeluargaan kami sangat tertanam dalam diri kami.
Pagi ini, ibu dan ayahku pergi ke rumah saudaraku di Bekasi. Pada awalnya, aku diajak mereka untuk ikut pergi kesana, tapi karena aku dan adikku tidak mau ikut, jadilah aku tinggal di rumah berdua dengannya.
‘’Jagain Lili baik-baik ya, La ! Paling nanti siang Mama udah pulang,’’ pesan Mamaku ketika akan pergi ke rumah saudaraku.
‘’Tau, jagain tuh yang bener, jangan sampai kabur!’’ ujar Papaku juga.
‘’Ih, apa-apaan sih Papa, ikut-ikutan aje, repot tau ngga sih,’’ ujarku karena kesal dengan ocehan Papa yang menurutku dia hanya meniru-niru omongan Mama saja.
‘’Udah udah, pagi-pagi udah rebut aje, malu tau didenger ama tetangga,’’ ujar mamaku seraya melerai pertengkaran antara aku dengan papaku. ‘’Yuk Pa, nanti keburu kesiangan,’’ kata Mamaku.
‘’Daaaaa Lala, mama pergi dulu ya, assalamu’alaikum,’’ pamit Mama.
‘’Wa’alaikumsalam, jangan lama-lama ya, Ma,’’ jawabku.
‘’Iya,’’ jawab Papa dan Mamaku.
Awalnya aku senang ditinggal pergi mereka berdua karena aku bisa bebas melakukan aktivitas apapun yang aku mau, tetapi masih banyak tugas yang harus kukerjakan, salah satunya adalah beres-beres rumah.
Sebelum aku beres-beres rumah, kutengok sebentar adikku di dalam kamar. Ternyata, ia sudah tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya. Padahal baru saja aku lihat tadi dia sedang bermain, tau-tau sudah tidur saja.
Tidak sampai satu jam, tugas itu telah kuselesaikan.
Tidak sampai satu jam, tugas itu telah kuselesaikan.
Lili bangun. Mula-mula ia mau menangis, tapi setelah kuletakkan sepiring nasi goreng buatan Mamaku di hadapannya, ia jadi tersenyum.
Setelah makan, ku ajak Lili untuk mandi, namun aku sangat kesusahan untuk membujuknya supaya dia mau mandi. Akan tetapi, setelah dibujuk berkali-kali, dia tetap saja tidak mau mandi. Akhirnya aku hanya menyuruhnya untuk cuci muka dan mengganti pakaian tidurnya.
Untuk mempersingkat waktu, aku membuka-buka koran-koran lama, sementara adikku kubiarkan saja dia bermain di halaman rumah dengan bonekanya.
‘’Liliiii, apa-apaan sih ini ?’’ bentakku pada Lili saat aku melihat kesetan yang bersih dan baru saja kuganti tadi pagi, sekarang telah basah kuyup terkena pipisnya.
‘’Masya Allah, koran baru juga disobek-sobek. Kalo main yang bener dong, jangan asal nyobek-nyobek gitu aje, ngga tau orang capek ape abis beres-beres kayak gini !’’ bentakku lagi seraya menarik tangannya dan menyuruhnya untuk ke kamar mandi.
Setelah ke kamar mandi, adikku terus menatapku dengan tatapan matanya yang berkaca-kaca. Hidungnya bergerak-gerak. Air matanya pun sekarang telah bercucuran. Kemudian, terdengarlah raung tangisnya.
Sampai aku selesai mengepel, Lili belum diam juga. Barulah timbul sesalku. Kalau sudah menangis begitu, susah sekali untuk membujuknya, apalagi Mama sedang pergi seperti sekarang ini.
‘’Ssstt, diam Li, dengerin deh, ada tukang ngamen!’’ bujukku ketika kulihat seorang laki-laki separuh baya yang menyandang gendang berdiri di depan rumahku.
‘’Bojleng, bojleng, akulaah sang Kera Hanomaaan,’’ kataku sambil berlaga seperti kera dengan diiringi gendang.
Adikku tertawa sambil bersorak gembira, ‘’Horee horee tari kera Hanoman, Mbak!’’ ujar adikku sambil meniru tarianku.
Karena adikku tadi bilang ‘Tari Kera Hanoman’ akhirnya aku terpaksa untuk menirukan suara kera Hanoman sambil menari-nari ngawur.
‘’Ah, keranya bau tuh, belom mandi kali!’’ suara Mama mengagetkanku.
‘’Horee, Mama sama Papa pulaang!’’ teriak Lili kegirangan.
Aku bernapas lega dan mengusap keringatku yang bercucuran. Lalu, Si tukang ngamen yang berjasa itu akhirnya kukasih lima ratus rupiah.





0 komentar:
Posting Komentar